Survei Litbangkes: Populernya Amoksilin yang Jadi Antibiotik di Kalangan Masyarakat

Umumnya, penyebab utama dari munculnya sejenis bakteri bernama resisten yaitu penyalahgunaan serta penggunaan obat antibiotik secara berlebihan. Perihal ini juga diperkuat oleh adanya sejumlah data yang mana dimiliki secara langsung oleh tim atau Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan (Balitbangkes) Kementerian Kesehatan RI.

Laporan yang berasal dari hasil riset kesehatan mendasar pada tahun 2013 menyebutkan bahwa ada sekitar 10% rumah tangga yang berada di Indonesia akan menyiapkan sejumlah obat antibiotik di rumahnya. Dan antibiotik jenis amoksilin yang saat ini menjadi obat antibiotik yang paling popular di kalangan masyarakat.

Balitbangkes, Selma Siahaan, dalam seminar Cegah Resistensi Antibiotik di Balai Kartini, Jl Denpasar Raya, Kuningan, Jakarta Selatan, Rabu (5/8/2015) menyebutkan, “dari seluruh masyarakat yang menyimpan antibiotik di rumah, 83 persen di antaranya membeli tanpa resep dokter. 53 Persen masyarakat yang menyimpan antibiotik jenis amoksisilin, 12 persen menyimpan kotrimoksazol dan 7 persen menyimpan antibiotik anti amuba dan fungi.”

Bukan hanya menjadi antibiotik yang memang paling banyak di siapkan untuk di rumah, jenis antibiotik amoksilin ini juga telah menjadi salah satu jenis obat yang berfungsi sebagai antibiotik yang banyak di resepkan oleh para dokter yang bertugas di puskesmas bahkan di rumah sakit.

Tidak sampai situ, penelitian yang serupa yang di lakukan di awal tahun 2012 juga di tahun 2014 juga menyebutkan bahwa tim ahli beghasil membuktikan bahwa sejumlah obat antibiotik termasuk amoksilin ini berada di peringkat utama, dimana di bawahnya ada kotrimoksazol dan sefadroksil.

Umumnya, ada sebanyak 69% masyarakat atau warga yang memang menyiapkan jenis obat ini mengaku bahwa mereka menyimpan amoksilin dari sisa obat yang diresepkan oleh dokter. Disamping itu, 31% lainnya mengaku mereka menyimpan jenis obat ini untuk obat persediaan dimana jika ada anggota keluarga mereka yang terserang penyakit.

Bukan hanya itu, bahkan hasil data atau laporan yang lainnya juga mengatakan, bahwa ada sebanyak 40,91% masyarakat yang sengaja membeli jenis obat ini dari pusat pelayanan kesehatan atau dokter, bahkan ada juga yang menyebutkan bahwa mereka membelinya dari apotek. Pernyataan yang paling menarik yaitu, bahwa ada sebanyak 26,39% masyarakat mengaku bahwa mereka membeli jenis obat ini dari warung kelontongan juga dari jajaran toko obat yang kerap kali mangkal di sepanjang jalan raya.

“Analisis kami mengatakan pengawasan distribusi obat antibiotik kurang berjalan, sehingga kurang terkontrol. Hal ini dibuktikan dari masyarakat yang ternyata bisa mendapatkan antibiotik secara bebas dan mudah di warung atau toko obat,” uangkap Selma.

Bahkan Selma juga menyebutkan, bahwa dari laporan hasil penelitiannya, para ahli menyarankan bahwa sangat diperlukan adanya paying hokum yang memang jauh lebih baik lagi sebagai salah satu kebijakan nasional terkait resistensi antibiotic. Misalnya dengan pemerintah yang mengeluarkan perda atau peraturan daerah, dengan begitu sistem pengawasan yang berkaitan dengan hal tersebut akan berjalan dengan lebih ketat lagi jika di bandingkan dengan sebelumnya.

“Rekomendasi lainnya antara lain melakukan edukasi kepada masyarakat, pengayaan kurikulum pendidikan bagi dokter, apoteker dan tenaga kesehatan lain serta memperkuat instrumen pengawasan terhadap distribusi antibiotika,” pungkasnya lagi.

Related Posts

Share This