STOP Panggil Si Kecil Dengan Sebutan ‘Anak Papa’ atau ‘Anak Mama’!

Terkadang, tanpa kita sadarai, kita sebagai orangtua terkadang kerap kali mengeluarkan sejumlah kalimat yang memang secara tidak langsung menyebutkan bahwa buah hati Anda lebih condong atau lebih dekat terhadap ayah atau ibunya saja. Misalkan saja ketika si kecil melakukan suatu hal, mungkin Anda sebagai orangtua akan melontarkan kalimat ‘dia ini memang anak ayahnya, bahkan ia dekat banget dengan ayahnya’, atau bahkan kalimat seperti ‘adek emang mamah’. Nah, pertanyaannya, apakah boleh kita sebagai orangtua melontarkan kalimat tersebut kepada si kecil?

“Nggak, nggak boleh shaping. Kan memang hati anak yang merasakan ya, jadi dia bisa merasa dia nyaman dengang siapa,” ungkap seorang psikolog anak dan remaja Ratih Zulhaqqi, M.Psi, yang berasal dari RaQQi – Human Development & Learning Centre yang di kutip dari health.detik pada hari Jumat (06/11/2015).

ketika orangtua terlalu sering mengeluarkan kata-kata yang memang seakan-akan menunjukkan bahwa si kecil merupakan anak dari ibu atau ayahnya saja, maka menurut ungkpaan Ratih, hal ini bisa membuat si kecil berpikir bahwa dirinya hanyalah anak si mama atau anak dari ayahnya saja. Karena seharusnya, ayah atau ibu yang memang tidak memiliki kedekatan yang lebih dengan si kecil berusaha dengan keras agar bisa menjadi seseorang yang terbaik di mata mereka.

Memang benar, ketika si kecil lebih dengan dengan sebelah pihak, seperti dengan mamah atau dengan papahnya saja, maka terkadang kondisi ini bisa menjadi satu tantangan yang jauh lebi berat bagi ibu atau ayah yang memang tidak terlalu dekat dengan si kecil. Dan untuk menyikapi kondisi ini, ayah atau bahkan si ibu harus bisa mengoreksi diri sendiri, apakah selama ini respon juga attachment atau bahkan kedekatannya dengan si kecil sudah baik atau bahkan belum.

“Evaluasi selama ini respons dia sama si anak gimana. Kalau mamanya diajak ngomong tapi asyik main gadget, tapi kalau sama papanya anak ngomong ditanggapi, ditanyai, wajar anak lebih nyaman dan dekat dengan papanya. Tapi, ingat, dekat dengan salah satu orang tua bukan berarti tidak sayang. Bedakan antara closeness dan feel love,” tutur Ratih.

Menurut Ratih sendiri, kedekatan si kecil hanya dengan ayah atau ibunya saja nantinya bisa mempengaruhi sikap si kecil dalam perintah. Karena, umumnya si kecil akan jauh lebih mendengar apa yang di utarakan oleh orang yang memang lebih dekat juga di rasa lebih asyik oleh dirinya.

Bahkan, seorang psikolog anak yang juga berasal dari Teman Hati Konseling, yang bernama Ajeng Raviando menyebutkan bahwa hal yang wajar jika si kecil memiliki kedekatan yang ekstra dengan ayah atau ibunya saja dan tidak dengan keduanya. Akan tetapi dalam kasus ini, tetap saja orangtua harus bisa menciptakan peran keduanya untuk si kecil.

“Tapi ada juga karena misalnya dia mirip jadi dibilang anak mama atau anak papa. Asal nggak membuat anak jadi terlalu dekat dan jadi nggak peduli dengan salah satu orang tuanya sih nggak masalah. Cuma untuk menghindari hal-hal yang tidak diinginkan, orang tua harus saling kerja sama aja,” ungkap Ajeng.

Related Posts

Share This

Turun 30 Kg Dalam 2 Bulan

Jus Pelangsing Alami, Dipake Oleh Banyak Artis Nasional. Kunjungi kami di Instagram: @bundakim7 PIN BB :D2335D03 SMS / WA: 0813 2154 8517