Sekilas Tentang Induksi Persalinan

Induksi persalinan merupakan salah satu upaya untuk memberikan rangsangan atau stimulus dalam mempermudah keluarnya bayi secara normal dari rahim. Induksi persalinan dilakukan dengan berbagai alasan yang berhubungan dengan berbagai kondisi medis. Dalam hal ini diperlukan pertimbangan sebelum melakukan induksi tersebut sebab induksi tidak selamanya baik untuk persalinan.

Induksi dalam persalinan bisa dilakukan jika ada faktor-faktor tertentu yang menyebabkan proses persalinan terhambat. Namun, jika kondisi ibu hamil dan kehamilan dalam keadaan normal sebaiknya tidak dilakukan induksi sebab memiliki resiko yang bisa saja mengancam kehamilan dan justru menyulitkan proses persalinan.

Terdapat dua cara yang biasa dilakukan oleh tim medis dalam proses induksi yaitu secara mekanik dan kimia. Pada dasarnya teknik induksi ini menggunakan hormone prostaglandin untuk memicu terjadinya kontraksi pada otot rahim.

Secara kimia dilakukan dengan cara diberikan obat-obatan, baik itu diminum ataupun dimasukkan ke dalam vagina atau di infuskan. Sedangkan dengan cara mekanik yaitu dengan menggunakan metode stripping, memecahkan ketuban dan pemasangan balon keteter.

Adapun alasan menurut medis dilakukan proses induksi persalinan yaitu sebagai berikut:

  • Janin lewat waktu

Yang dimaksud disini adalaha kehamilan yang melewati usia 41 minggu. Jika tidak segera dilakukan persalinan maka sangat beresiko menyebabkan komplikasi pada bayi. Dalam hal ini induksi perlu untuk dilakukan untuk menyelamatkan bayi dan sang ibu. Jika dibiarkan maika kemungkinan janin bisa meninggal.

  • Selaput ketuban pecah

Selaput ketuban yang pecah terlebih dahulu dan janin susah untuk keluar maka perlu dilakukan induksi untuk mencegah terjadinya infeksi. Setelah ketuban pecah maka sebisa mungkin bayi harus terlahir dalam jangka waktu tidak boleh lebih dari 24 jam.

  • Kondisi ibu hamil

Ibu hamil yang mengalami masalah kesehatan seperti diabetes ataupun tekanan darah tinggi maka pada tahap akhir kehamilan harus dilakukan induksi dan bayi harus segera dilahirkan. Hal ini karena penyakit tersebut sangat beresiko jiks terjadi pada tahap akhir kehamilan.

  • Kondisi janin

Kondisi janin yang tidak lagi memungkinkan berada lebih lama di dalam kandungan sebaiknya dilakukan induksi. Salah satu contohnya yaitu ketika pergerakan janin melemah. Kondisi tersebut biasanya diakibatkan oleh pertumbuhan yang terganggu karena adanya gangguan di dalam kandungan seperti air ketuban sedikit.

Resiko Induksi Persalinan

Perlunya pertimbangan adalah untuk menghindari terjadinya resiko yang fatal untuk keselamatan ibu hamil dan janin. Berikut ini resiko induksi yang perlu Anda ketahui:

  • Kontraksi rahim terjadi secara berlebihan

Dalam melakukan induksi persalinan harus senantiasa dalam pengawasan dokter. Hal ini bertujuan untuk mencegah terjadinya kontraksi terjadi secara berlebihan. Jika terjadi maka dokter akan melakukan operasi caesar.

  • Janin merasa tidak nyaman

Proses induksi biasanya akanmenyebabkan janin merasa tidak nyaman dan bahkan menyebabkan kondisi gawat janin. Hal ini terlalu beresiko sehingga membutuhkan pengawasan dari dokter melaluiĀ  CTG dan jika dirasa berbahaya maka induksi akan dihentikan.

  • Emboli

Resiko selanjutnya yaitu air ketuban pecah dan masuk ke dalam pembuluh darah dan masuk ke paru-paru serta otak. Kondisi ini sangat beresiko terhadap keselamatan sang ibu.

Demikian sekilas tentang penjelasan induksi dan resikonya. Induksi sebaiknya tidak dilakukan jika masih memungkinkan proses persalinan berlangsung dengan sendirinya. Semoga bermanfaat!

Related Posts

Share This