Remaja yang Hisap Rokok Elektrik Memiliki Resiko Besar Mengisap Rokok Tembakau

Akhir-akhir ini banyak beredar rokok elektrik yang kabarnya rokok jenis ini merupakan salah satu bentuk upaya untuk menjauhkan pecandu rokok dari rokok tembakau. Namun nyatanya, egek negative dari rokok jenis ini khususnya untuk remaja

Dan saat ini, efek buruk dari roko elektrik ini, terutama bagi para remaja telah di buktikan melalui study yang telah di lakukan di Amerika Serikat. Dalam penelitian ini di sebutkan, bahwa para remaja yang memang belum pernah sama sekali mengisap roko tembakau, mereka akan berani untuk mencobanya jika sebelumnya mereka juga berani untuk mengisap rokok elektrik.

Seorang peneliti bernama Adam Leventhal yang berasal dari University of Southern California Health, Emotion and Addiction Laboratory berhasil melakukan sebuah penelitian yang di lakukan terhadap 2.500 para remaja yang masih berada pada tingkat SMA yang berada di Los Angeles.

Penelitian ini di lakukan terhadap remaja yang belum pernah sama sekali menghisap rokok tembakau sebelum mereka berani melakukannya, dan ternyata hanya ada 220 orang saja yang memang pernah mencoba menghisap rokok elektrik.

Setelah penelitian ini di lakukan selama 3 tahun, Adam menemukan bahwa hampir sebagian dari semua orang yang menjadi partisipan mengaku bahwa mereka pernah mencoba untuk menghisap rokok eletrik. Dan sebanyak 220 orang remaja yang pada awalnya mengaku bahwa mereja hanya mampu mengisap rokok elektrik saja, kini telah beralih untuk mencoba menghisap rokok tembakau. Resikonya akan terjadi lebih besar jika para remaja tersebut telah mencoba untuk menghisap roko tembakau jenis lainnya, diantaranya seperti shisha dan cerutu.

“Penelitian kami membuktkan bahwa remaja yang menggunakan rokok elektrik awalnya hanya untuk rekreasi. Namun ternyata mereka memiliki risiko dua kali lebih besar untuk mengisap rokok tembakau,” ungkap Adam, seperti yang kami kutip dari health.detik.com, pada hari Kamis (20/8/2015).

Seorang pakar peneliti tembakau yang juga berasal dari Massachusetts General Hospital, yaitu Dr Nancy Rigotti, juga menduga, bahwa adanya kaitan antara rokok tembakau juga rokok elektrik yang memang terdengar sudah lama. Akan tetapi, dengan adanya penelitian ini, maka kaitan antara rokok elektrik dengan rokok tembakau saat ini bukan lagi menjadi dugaan yang kuat, melainkan adanya hubungan sebab juga akibat yang sangat jelas yang sudah terungkap.

“Otak remaja sangat rapuh dan rentan kecanduan ketika sudah terekspos nikotin. Cara untuk mencegah kecanduan ini tentu saja dengan tidak mengenal rokok kepada mereka,” tutur Dr Nancy.

Sebelumnya, juga sudah ada penelitian yang menyebutkan bahwa jenis rokok yang bukan tembakau atau rokok elektrik juga diyakini mampu menyebabkan kecanduan yang jauh lebih buruk terhadap rokok, sama halnya dengan rokok tembakau.

Najat Saliba yang berasal dari American University of Beirut bersamaan dengan timnya dilaporkan juga telah melakukan uji coba terhadap contoh komersial yang berasal memang berasal dari sejumlah cairan yang memang di ciptakan untuk rokok elektrik. Dan hasil dari penelitian ini berhasil diterbitkan dalam sbeuah jurnal yang berjduul American Chemical Society’s journal Chemical Research in Toxicology, yang menyebutkan mereka telah menemukan pernyataan bahwa ‘free-base’ jenis nikotin yang kerap kali digunakan dalam pembuatan cairan tersebut.

Dan kandungan nikotin jenis tersebut juga di yakini merupakan salah stau jenis nikotin yang memang bisa diserap oleh tubuh, dan ini termasuk jenis nikotin paling adiktif.

Selain itu, para ahli juga menyebutkan bahwa komposisi dari kandungan nikotin tersebut sangatlah dbervariasi dan terkadang kandungan tersebut tidak sesuai dengan apa yang tertera di label komposisi yang ada di dalam kandungannya.

“Produk dengan nikotin yang sangat rendah mungkin tidak akan menggantikan rokok tembakau. Di sisi lain, produk dengan nikotin yang sangat tinggi, justru akan membuat pengguna ketagihan,” ungkap Najat.

Related Posts

Share This