Mitos Proses Persalinan Caesar Bisa Membuat Anak Menjadi Autis

Untuk saat ini, persalinan caesar telah menjadi trend tersendiri di kalangan ibu hamil, bahkan sebagian besar ibu hamil memilih untuk melangsungkan operasi persalinan caesar. Hal ini dikarenakan proses persalinan yang cepat serta tidak menimbulkan rasa sakit ketika proses persalinan berlangsung, sehingga banyak ibu hamil yang memilih cara ini jika di bandingkan dengan proses persalinan normal.

Melahirkan secara caesar berarti mengeluarkan janin dalam kandungan dengan melalui sayatan yang dibuat di bagian perut ibu hamil, bukan melalui vagina. Sebelum pembedahan di lakukan, umumnya dokter akan melakukan anesthesia atau pembiusan terlebih dahulu pada pasien, sehingga hal ini membuat bagian perut menajdi mati rasa serta kebal ketika dokter melakukan proses penyayatan dari bagian perut bawah.

Maka dari itu, ketika proses persalinan caesar di lakukan, otomatis pasien akan tetap tersadar selama proses operasi, namun mereka akan mati rasa di bagian panggul ke bawah. Dan itulah yang membuat banyak ibu hamil memilih proses persalinan ini.

Nah, untuk operasi caesar sendiri, begitu banyak mitos yang berkembang di kalangan masyarakat yang berkaitan dengan kelahiran bahkan kesehatan ibu juga anak yang di lahirkan dengan cara caesar. Dan salah stau mitosnya yang memang paling popular yaitu dengan melahirkan caesar bisa membuat si kecil mengalamu autis. Apakah itu benar?

Dan ternyata hal tersebut merupakan mitos yang tidak di benarkan oleh para ahli. Karena para ahli sama sekali tidak menemukan keterkaitan antara dua hal tersebut. Bahkan para peneliti juga menunjukkan bahwa anak-anak yang autis lebih didominasi oleh faktor genetis jika dibandingkan dengan metode persalinan yang dipilih oleh ibu hamil.

“Beberapa penelitian sebelumnya menganalisa bahwa kelahiran caesar mampu menyebabkan anak autis. Nyatanya, kami tidak menemukan hal ini sama sekali. Tidak ada hubungannya antara metode melahirkan dengan risiko anak autis,” ungkap Dr Ali Khashan, peneliti dari Irish Centre for Foetal and Neonatal Translational Research in Cork.

Bahkan, Dr Ali juga menekankan, bahwa resiko anak-anak yang terkena autis lebih banyak disebabkan oleh faktor lingkungan sekitarnya tinggal, terutama sekitar ibu hamil, polusi, dari faktor makanan, sampai gangguan ketika ibu hamil. Dan sama sekali tidak ada hubungannya dengan proses persalinan baik caesar atau bahkan normal.

Karena walaupun seorang ibu melakukan proses persalinan secara normal, namun jika terdapat gangguan pada masa kehamilannya, maka kemungkinan besar bayi yang akan di lahirkan akan menjadi anak yang autis.

Dan itu artinya, baik persalinan yang dilakukan secara normal atau bahkan secara caesar, tidak akan mempengaruhi perkembangan anak-anak. Dan anak autis tidak disebabkan oleh persalinan yang dilakukan secara caesar. Jika hal tersebut benar, maka akan banyak anak yang autis di negeri ini, karena banyaknya ibu hamil yang memilih persalinan secara caesar.

Related Posts

Share This