Mengharukan, Pengantin Baru Ini Meninggal Karena Kanker Serviks

Sangat mengharukan, lagi-lagi kabar buruk terjadi terhadap kaum wanita. Seorang wanita yang berusia 25 tahun akhirnya harus menghembuskan nafas terakhirnya beberapa bulan setelah ia menikah. Hal ini terjadi karena kanker serviks langka yang ia derita dikira sebagai gejala dari infeksi saluran kemih oleh dokter. Dan itu menyebabkan keterlambatan dalam mengatasinya.

Wanita cantik itu bernama Emma Fisk yang berumur 25 tahun, sebelum ia menikah, ia terlebih dahulu mengunjungi dokter dan berkonsultasi sampai 10 kali karena rasa nyeri di bagian perut yang ia rasakan tak kunjung hilang. Dan dokter menyebutkan, kalau dirinya hanya mengalami infeksi saluran kemih.

Emma sempat merasa tidak puas dengan diagnosis yang memang diberikan oleh dokter yang memeriksanya tersebut, dan akhirnya Emma meminta persetujuan untuk melakukan papsmear. Namun sangat disayangkan, permintaan tersebut akhirnya ditolak, karena dokter beranggapan kalau Emma masih cukup muda untuk melakukan pemeriksaan tersebut.

Sampai pada akhirnya, Emma berhasil untuk membujuk tenaga medis untuk melakukan prosedur pemeriksaan tersbeut, dan ketika itu, barulah diketahui bahwa ternyata rasa nyeri yang diderita Emma bukanlah karena infeksi dari saluran kemih, melainkan terdapat sel kanker yang sangat langka di dalam serviknya.

Setelah Emma dan keluarganya mendapatkan pernyataan tersebut, akhirnya kekasih Emma, Dan (28) memutuskan untuk melamar Emma. Namun tak lama setelah proses lamaran berlangsung, tim medis memberi tahu Emma, bahwa kemungkinan besar dirinya hanya memiliki waktu selama enam bulan saja untuk tetap bertahan hidup.

Hal ini dikarenakan penyakit kanker serviks langka Emma yang telah memasuki stadium lanjut, dan pengobatanpun tidak menjamin bisa menyembuhkan penyakit yang diderita Emma. Bahkan dokter mengatakan, hanya keajaibanlah yang bisa membantu Emma untuk bertahan hidup.

Dan benar saja, akhirnya setelah beberapa bulan Emma menikah dan menjalankan hidup barunya bersama suami tercinta, akhirnya Emma meninggal dunia.

“Jika putri saya diizinkan papsmear sejak awal, mungkin penyakitnya bisa diobati. Ia anak yang sangat baik dan disayangi oleh semua orang. Saya masih tak percaya bahwa ia kini sudah tak ada,” tutur ibu Emma, Adele Willis, seperti dikutip dari health.detik.com (04/09/2015).

Mengingat kejadian ini, keluarga Emma sangat menyayangkan tindakan dari tim dokter yang dirasa sangat lalay dalam menghadapi keluahan dari pasien. Jika saja tim dokter mendengarkan dengan baik apa keluhan dari Emma dan apa yang Emma minta bisa dilakukannya sejak awal, mungkin saja kejadian seperti ini tidak akan terjadi, tutur Adele.

Adele beserta anggota keluarga yang lainnya akhirnya memutuskan untuk melakukan kampanye terkait betapa pentingnya proses pemeriksaan papsmear tanpa harus memilih-milih batasan usia. Bahkan keluarga Emma berharap, lankah ini mereka lakukan guna mencegah terjadinya kasus serupa yang dialami oleh Emma.

Related Posts

Share This