Kehamilan Ektopik, Inilah Cara Menanganinya!

Kehamilan ektopik atau yang sering disebut dengan kehamilan di luar kandungan merupakan proses pembuahan sel telur oleh sperma di luar rahim. Biasanya embrio atau janin akan berkembang dib again saluran telur atau tuba falopi. Kehamilan ektopik bisa membahayakan kesehatan ibu hamil dan beresiko mengalami gangguan dalam sistem reproduksi.

Penanganan kehamilan ektopik secara medis biasanya akan mempertimbangkan kondisi dari tuba falopi (saluran telur). Dalam hal ini kondisi tuba falopi akan mempengaruhi langkah pengobatan yang akan dilakukan oleh tim medis.

Kondisi kehamilan ektopik meliputi tiga tahapan yang berbeda yaitu janin akan menempel dan berkembangan dengan baik, perlahan-lahan perkembangan janin terhenti/mati, tahap selanjutnya yaitu tuba falopi pecah.

Nah, untuk teknik penanganan kehamilan ektopik terganggu secara medis meliputi 3 tahapan, diantaranya yaitu konsumsi obat, operasi laparoskopi dan operasi bedah.

  1. Konsumsi obat

Jika pertumbuhan janin di luar rahim masih dalam tahap awal maka biasanya dokter akan mengambil tindakan dengan memberikan obat-obatan. Tujuannya yaitu untuk menghentikan pertumbuhan dari jaringan kehamilan tersebut.

Kehamilan ektopik yang terdeteksi sejak dini akan dilakukan penyuntikan cairan metotreksat untuk menghantikan pertumbuhan sel dan melarutkan sel-sel yang sudah mati. Setelah pemberian obat dan penyuntikan maka dokter akan melakukan pemeriksaan untuk memastikan hormone HCG (Human Chorionic Gonadotrophin). Apabila kadar hormone tersebut masih tinggi maka hal ini berarti perlu dilakukan lagi penyuntikan dan tindakan bedah.

  1. Operasi laparoskopi

Tindakan operasi ini bisa dilakukan jika perkembangan janin masih dalam tahap awal dan belum mengakibatkan tuba falopi pecah. Tujuan dari operasi laparoskopi yaitu untuk mengangkat embrio sehingga memperbaiki sistem reproduksi.

  1. Operasi bedah

Apabila pertumbuhan janin terdeteksi sudah jauh dan berakibat tuba falopi pecah maka hal tersebut harus dilakukan tindakan pembedahan. Hal ini dilakukan untuk mengangkat tuba falopi dan ovarium sehingga tidak akan terjadi pendarahan yang bisa membahayakan keselamatan ibu hamil.

Setelah melakukan operasi laparoskopi dan pembedahan, disarankan untuk melakukan kontrol hormone HCG secara rutin dan teratur. Jika kadar hormone HCG masih terlalu tinggi maka disarankan untuk melakukan kontrol dan dokter akan memberikan obat atau suntikan metotreksat untuk memastikan kalau sel-sel dan jaringan janin benar-benar mati.

Menurut sebuah riset menemukan bahwa sekitar 12% wanita mengalami kehamilan ektopik dan 60% wanita akan menjadi subur lagi jika dilakukan penanganan dengan benar. Fakta lain mengungkapkan bahwa sekitar 30% wanita yang mengalami kehamilan ektopik merasa trauma untuk kembali hamil. Selain itu, sekitar 10% wanita dengan kehamilan ektopik akan mengalami gangguan kesuburan.

Pada dasarnya kehamilan ektopik tidak bisa dihindari atau dicegah sepenuhnya, namun Anda bisa mengurangi resiko tersebut dengan melakukan pemeriksaan kehamilan secara rutin sejak awal. Deteksi dini akan meminimalisir kemungkinan yang lebih parah.

Related Posts

Share This