Kecerdasan Emosional (EQ) Bayi

Bayi belum memiliki kemampuan untuk berbicara ataupun mengutarakan keinginannya melalui ucapan. Gerakan isyarat adalah cara bayi dalam mengungkapkan perasaannya. Fenomena yang mungkin sering Anda lihat yaitu bayi tersenyum ketika senang dan rewel ketika bosan. Nah hal tersebut sebagai bentuk komunikasi bayi dalam menyampaikan setiap keinginan dan perasaannya. Isyarat non-verbal yang ditunjukan oleh bayi merupakan tanda awal perkembangan kecerdasan emosional (EQ) bayi.

Kecerdasan emosional (EQ) merupakan kemampuan seseorang dalam mengelola emosi dan memahami perasaan. Menurut sebagian orang bahwa EQ lebih penting daripada IQ dalam menunjang kesuksesan. Kecerdasan emosi seorang anak bisa diasah dengan pola pengasuhan yang baik sejak dini. Peran orangtua dalam hal ini sangat dibutuhkan untuk membentuk seorang anak yang berkpribadian baik dengan pola perkembangan emosi yang baik.

Anda bisa melihat perkembangan emosi bayi ketika berusia empat atau lima bulan. Pada usia tersebut, perkembangan emosi bayi sudah berlangsung dengan baik. Anda bisa melihat dengan jelas bagaimana bayi memperlihatkan ekspresi senang atau sedih. Ketika Anda memberikan suatu permainan untuk si kecil maka lihatlah ekspresi dan perasaan senang yang ditunjukan. Untuk mengoptimalkan perkembangan tersebut Anda bisa memberikan stimulasi melalui kata-kata ataupun gerakan sederhana.

Cobalah untuk menunjukan ekspresi yang bisa dilihat dengan jelas oleh bayi. Misalnya ekspresi senang, cobalah tunjukan pada bayi dengan tersenyum lebar dan suara yang sedikit nyaring. Perhatikan bagaimana respon bayi dengan ekspresi kebahagiaan yang Anda tunjukan. Ketika bayi menunjukan respon yang baik dengan ekspresi yang Anda tunjukan maka kemampuan emosional (EQ) bayi akan meningkat.

Menstimulasi kemampuan emosional (EQ) bayi sejak dini tidak ada salahnya sebagai upaya untuk mengoptimalkan tumbuh kembangnya. Pada dasarnya EQ adalah sifat bawaan lahir dan bisa dikembangkan dengan memberikan stimulasi sejak dini. Tingkat EQ yang rendah akan menghambat keberhasilan anak di masa mendatang. Anak yang memiliki EQ rendah cenderung akan menyalahkan orang lain ketika gagal melakukan suatu pekerjaan.

Anak-anak yang memiliki EQ rendah tidak memiliki kemampuan untuk menghadapi situasi yang sulit dan tidak bisa menerima pendapat orang lain. Rendahnya pengelolaan emosional bisa berdampak negatif sehingga anak cenderung mendramatisir kondisi emosinya. Salah satu contohnya yaitu membesar-besarkan msalah yang sepele dengan tujuan untuk menarik perhatian orang-orang disekitarnya. Selain itu rendahnya tingkat emosional anak akan berdampak terhadap kemampuan bersosialisasi. Anak akan cenderung kesulitan untuk bersosialisasi dengan lingkungan sekitarnya.

Kemampuan emosional meliputi beberapa aspek yaitu kemampuan untuk memberi motivasi bagi diri sendiri, memiliki kemampuan untuk mengenali emosi orang lain, mengenali serta mampu mengolah emosi diri sendiri dan memiliki kemampuan untuk bersosialisasi dengan orang lain. EQ yang baik adalah salah satu kunci sukses anak dalam mengembangkan kemampuan untuk bersosialisasi.

Pada umumnya kemampuan emosional (EQ) bayi hanya sebatas ekspresi yang bersifat imitasi. Bayi akan mengenali dirinya dari pola asuh yang Anda terapkan. Bayi akan mempelajari setiap perilaku dan gerakan yang dilihat dari lingkungan sekitarnya. Oleh karena itu, Anda harus memberikan pola asuh yang penuh kasih sayang dan mengajarkan ekspresi emosi pada bayi untuk mengoptimalkan perkembangan dan kemampuan emosional (EQ).

Related Posts

Share This

Turun 30 Kg Dalam 2 Bulan

Jus Pelangsing Alami, Dipake Oleh Banyak Artis Nasional. Kunjungi kami di Instagram: @bundakim7 PIN BB :D2335D03 SMS / WA: 0813 2154 8517