Hukuman Kebiri Tidak Jamin Pedofil Jera, Benarkah?

Belakangan ini, sederetan kasus kekerasan seksual pada anak-anak semakin banyak, dan hal ini mendapatkan perhatian khusus dari sejumlah pihak, yang mana diantaranya adalah pemerintah. Dan kasus terbaru yang memang sampai saat ini masih dalam proses yaitu kasus pembunuhan serta dugaan adanya kasus pemerkosaan yang dilakukan pada bocah perempuan yang masih berada di bawah umur yang berasal dari daerah Kalideres, Jakarta Barat.

Beberapa pihak menilai, bahwa salah satu penyebab yang memang menyebabkan terus berulangnya kasus dari kekerasan seksual pada anak yang masih berusia di bawah umur yaitu pemberian sanksi atau hukuman yang tidak tegas terhadap si pelaku atau kerap di sebut dengan pedifil. Dan ternyata, dari beberapa sanksi, ada sanksi terberat yang memang diakui efektif untuk mengurangi kejadian yang serupa yaitu diberikannya hukuman kebiri untuk orang yang menjadi pelaku kekerasa seksual tersebut, hal ini juga bertujuan agar pelaku jera.

Bahkan, untuk saat ini ada beberapa Negara yang memang telah menerapkan prosedur hukuman kebiri dengan menggunakan reaksi kimia ini yang mana hampir sama dengan diberikannya hukuman penjara. Dismaping itu, ada juga beberapa Negara lainnya yang memang menerapkan sanksi ini sebagai salah satu alternatif untuk mengurangi masa tahanan si pelaku. Namun sayangnya, untuk sistem perundang-undangan yang memang dimiliki oleh Negara Indonesia sendiri, sampai saat ini masih belum mengatur terkait prosedur hukuman kebiri tersebut, terutama bagi mereka yang menjadi pelaku terhadap kekerasan seksual yang kerap kali di lakukan terhadap anak-anak yang masih berada di bawah umur.

Berdasarkan ungkapan dari Yogo Tri Hendiarto, seorang ahli kriminolgi yang berasal dari Universitas Indonesia, dengan menerapkan hukuman kebiri terhadap si pelaku, belum tentu para pelaku terhadap kejahatan seksual pada anak bisa jera dengan hukuman tersebut.

“Ada banyak hal yang harus dipertimbangkan sebelum membuat keputusan ini. Seberapa efektif hukum kebiri dapat menyelesaikan masalah ini? Bagaimana nanti pelaksanaannya? Tidak bisa diputuskan terburu-buru dan tidak ada jaminan membuat pelaku jera,” ungkap Yoga dilansir dari health.kompas pada hari Sabtu (24/10/2015).

Selain itu, bahkan Yoga juga mengatakan, hal terpenting yang harus di perhatikan pemerintah yaitu bukan hanya sekedar hukuman yang diberikan pada si pelaku, namun pemerintah juga harus memperhatikan penanganan dari korban kekerasan seksual tersebut. Bahkan pemerintah diharapkan untuk lebih serius lagi dalam memberikan perhatian terhadap para korban kekerasan seksual, yang diberikan tidak hanya dalam kurun waktu yang pendek namun harus di perhatikan dalam jangka waktu yang panjang.

Bahkan, hal yang memang tidak boleh lupa untuk di perhatikan yaitu efek dari psikologis si korban yang mengalami kejahatan seksual. Dan hal ini pastinya harus mendapatkan penanganan yang jauh lebih serius dan juga tepat.

“Sediakan pendampingan dan pelayanan konseling gratis seumur hidup. Karena jika tidak, bukan tak mungkin kejahatan seksual pada anak akan terus berulang. Umumnya, korban merasa tertekan, marah, dan dendam. Kemudian jika tak ditangani dengan tepat, suatu saat korban kejahatan seksual justru akan menjadi pelaku kejahatan seksual,” tutur Yogo.

Yoga juga menekankan, sampai saat ini masih banyak kasus yang terjadi mengenai kejahatan seksual terhadap anak-anak yang masih berusia di bawah umur yang mana sebagian besar pelaku kekerasan seksual ini sejak kecilnya mereka juga mengalami kejadian serupa. Maka dari itu, selain adanya hukuman kebiri bagi si pedifil, korban dari kasus kejahatan seksual ini juga sangat penting untuk mendapatkan perhatian juga penanganan yang khusus.

Related Posts

Share This

Turun 30 Kg Dalam 2 Bulan

Jus Pelangsing Alami, Dipake Oleh Banyak Artis Nasional. Kunjungi kami di Instagram: @bundakim7 PIN BB :D2335D03 SMS / WA: 0813 2154 8517